“ Jun, masih ada nyimpan photo almarhum ayah ?”
“ Kayaknya ada kak,...entar aku cari. Buat apa sih ?
“ Anu,..kakak bermaksud mau menghajikan almarhum ayah. Makanya perlu photo beliau.”
“ Waduh,....saya tidak setuju kak. Bukankah menjalankan ibadah haji itu hanya untuk orang yang hidup. Orang yang telah meninggalkan tidak terkena kewajiban tersebut ?”
Kulihat wajah kakakku agak kecut,.......mungkin marah mendengar jawabanku tersebut.
“ Kamu ni payah Jun,...gak ngerti. Pokoknya tolong carikan saja photo ayah !” suara kakakku agak meninggi.
“ Iyalah nanti aku carikan,....mudah-mudahan tidak hilang.”
Berdasarkan logikaku ibadah haji hanya untuk orang yang hidup. Bukankah hal yang mubazir mengeluarkan sedikit biaya untuk “menghajikan” orang yang telah meninggal dunia. Alangkah baiknya jika “biaya” tersebut disedekahkan kepada yang membutuhkan.
Dan parahnya masalah yang kami perbincangkan dengan kakakku hari ini terus menghantuiku. Sudah benarkah pendapatku tersebut di atas yang semata-mata aku sandarkan dengan logikaku ?. Aku jadi ragu. Terlebih melihat seriusnya wajah kakakku tadi.
Malam ini aku sangat mengharapkan nasehat dari seseorang yang ahli di bidang ini. Karena jika tidak menemukan alasan yang memuaskan hatiku tentang boleh tidaknya masalah “menghajikan orang yang sudah meninggal”, yang menurutku tidak logik,...maka diam-diam aku sudah merencanakan sesuatu yang jahat,...yaitu dengan mengatakan tidak menemukan photo almarhum ayahku kepada kakakku. Untuk mencegah agar kakakku tidak “menghajikan” almarhum ayahku, karena itu adalah pekerjaan yang sia-sia dan mubazir.
Tengah malam itu, aku beranikan menekan tombol messages di akun FB-ku, lalu jemariku mengetik sebuah nama, sebuah akun yaitu simbah kakung.
Assalamu'alaikum Mbah,...perkenalkan saya dari Natuna Kepulauan Riau. Mohon pencerahan. Apakah orang yang sudah meninggal dunia bisa di haji
Terima kasih ya Mbah
Wassalam
Junaidi Syamsuddin
Aku sangat berharap jawaban dari Simbah Kakung sama dengan pendapatku. Dan ini lah jawaban dari Simbah Kakung via Inbox :
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Menghajikan orang yang sudah meninggal memang ada dalilnya. Baca misalnya, Bukhari Hadis 1720 dan Muslim hadis 1939.
Wallahu a'lam.
Sebuah jawaban yang jauh dari harapanku, namun cukup efektif untuk menghentikan pemikiranku yang salah tentang masalah ini, yang semata-mata berdasarkan logika dan memaksaku untuk segera mengirim pesan balasan via inbox kepada Simbah Kakung.
Dear Mbah Kakung,...
Alhamdulillah kiranya dua hadis yang Mbah Kakung maksudkan telah saya baca dan cukup untuk merubah pendirian saya ttg masalah ini,....Saya harus segera menghentikan pendapat saya yg semata-mata hanya berdasarkan logika saja.
semoga Mbah Kakung tetap berkenan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya di masa-masa mendatang.
Terima kasih ya Mbah,...
Dan buat kakakku : Kak photo ayah sudah ketemu,…!!!!
PS :
Terima kasih buat Lie Ju,…sahabat maya-ku yang telah menyarankan untuk meng-add akun Simbah Kakung.
9 Komentar:
terkadang kita hanya terpaku dengan itung-itungan untung dan rugi bahkan dalam hal ubudiyah, kita tidak mengetahui kelak amaliah kita yang mana yang akan diterima oleh Allah SWT...waLLahu a'lam
dan simbah kakung adalah KH. Musthofa Bisri...hahahaha
ps: jangan di colek lho Bang...xixixixixi
Halo Junaidi,
Terima kasih sudah menuliskan ini. Saya baru tahu sekarang bahwa orang yang sudah meninggal bisa dihajikan.
kawan juga baru tau....
selama ini kawan tau hanya orang hidup saja yang wajib haji....
terus bagaimana dengan ibadah lain yang dalam rukum islam ?
ho? saya juga baru tau... bisa ya om?
pakabar om?
apakabar natuna?
apakabar semuanya?
mbe kbo bong???
sifat Tuhan kn Rahman Rahim,hbungn kte dengan Tuhan kte yg tnggung jwob n kte yg tau,permsalahan skrng ni hubungan kte ssme mnnusie?minanas ni yg susah kte nk joge??
untong gok ade mbah kang kung????????????????
Semata mengandalkan logika dlm hal agama memang aku jg tdk trlalu sepakat, krn dlm beberapa hal logika sj tdk slalu brbicara. Tapi aku juga masih sepakat dengan pendapat bong Jun, karena kita tidak pernah tau seberapa besar atau kuatnya ibadah haji tsb bisa memuaskan rasa spiritualitas sang ayah. Dan Allah maha tahu kedalaman dan spiritiualitas manusia, meskipun niat haji begitu dalam namun dia blm sampai pada Makkah, tapi jika Allah berkehendak, dia saja telah setara dg mereka yg berhaji. Dan kehendak itu hny Allah yg maha tau.
Meskipun ada haditsnya, kita juga perlu mengkaji seberapa sohih dan dalam kontkes bagaimana hadits tsb keluar.
Karena sekali lagi, aku sepakat bahwa inti dari semua itu adalah do'a kepada almarhum. Dg gagasan bong Jun agar biaya dimanfaatkan untuk anak yatim atau membantu mereka yg membutuhkan dan 'ngalap' barokah atas do'a2 mereka untuk almarhum, aku pikir itu sudah melebihi dr sekadar foto yg dibawa naik haji. Kecuali, ada saudara atau anak yg kebetulan mau Haji dan gambar tsb diikutsertakan.
Teriakasih sudah sharing yg tema seperti ini Bong, selamat pagi :)
salam http://mylastparagraph.wordpress.com
Semata mengandalkan logika dlm hal agama memang aku jg tdk trlalu sepakat, krn dlm beberapa hal logika sj tdk slalu brbicara. Tapi aku juga masih sepakat dengan pendapat bong Jun, karena kita tidak pernah tau seberapa besar atau kuatnya ibadah haji tsb bisa memuaskan rasa spiritualitas sang ayah. Dan Allah maha tahu kedalaman dan spiritiualitas manusia, meskipun niat haji begitu dalam namun dia blm sampai pada Makkah, tapi jika Allah berkehendak, dia saja telah setara dg mereka yg berhaji. Dan kehendak itu hny Allah yg maha tau.
Meskipun ada haditsnya, kita juga perlu mengkaji seberapa sohih dan dalam kontkes bagaimana hadits tsb keluar.
Karena sekali lagi, aku sepakat bahwa inti dari semua itu adalah do'a kepada almarhum. Dg gagasan bong Jun agar biaya dimanfaatkan untuk anak yatim atau membantu mereka yg membutuhkan dan 'ngalap' barokah atas do'a2 mereka untuk almarhum, aku pikir itu sudah melebihi dr sekadar foto yg dibawa naik haji. Kecuali, ada saudara atau anak yg kebetulan mau Haji dan gambar tsb diikutsertakan.
Teriakasih sudah sharing yg tema seperti ini Bong, selamat pagi :)
salam http://mylastparagraph.wordpress.com
Semata mengandalkan logika dlm hal agama memang aku jg tdk trlalu sepakat, krn dlm beberapa hal logika sj tdk slalu brbicara. Tapi aku juga masih sepakat dengan pendapat bong Jun, karena kita tidak pernah tau seberapa besar atau kuatnya ibadah haji tsb bisa memuaskan rasa spiritualitas sang ayah. Dan Allah maha tahu kedalaman dan spiritiualitas manusia, meskipun niat haji begitu dalam namun dia blm sampai pada Makkah, tapi jika Allah berkehendak, dia saja telah setara dg mereka yg berhaji. Dan kehendak itu hny Allah yg maha tau.
Meskipun ada haditsnya, kita juga perlu mengkaji seberapa sohih dan dalam kontkes bagaimana hadits tsb keluar.
Karena sekali lagi, aku sepakat bahwa inti dari semua itu adalah do'a kepada almarhum. Dg gagasan bong Jun agar biaya dimanfaatkan untuk anak yatim atau membantu mereka yg membutuhkan dan 'ngalap' barokah atas do'a2 mereka untuk almarhum, aku pikir itu sudah melebihi dr sekadar foto yg dibawa naik haji. Kecuali, ada saudara atau anak yg kebetulan mau Haji dan gambar tsb diikutsertakan.
Terimakasih sudah sharing yg tema seperti ini Bong, selamat pagi :)
salam
http://mylastparagraph.wordpress.com
alhamdulillah ya sesuatu
Post a Comment