skip to main |
skip to sidebar
Tanjung Katung di Panggung Sincia
hidup di keluarga besar yang dipayungi 6 agama, saya tak habis pikir kenapa di negeri ini masih saja ada saling hujat dan saling bantai atas nama keyakinannya. ( Metta Dharmasaputra )

Perayaan Imlek tahun ini di perkampungan atas air terbilang luar biasa meriahnya. Anak-anakku tak sabar menunggu malam tiba untuk menikmati indahnya Lampion berwarna merah yang dipasang sepanjang jalan
Panggung hiburan pun digelar selama empat malam berturut-turut. Bermacam genre musik dari band lokal menghentak,….menghangatkan dinginnya angin malam di penghujung musim utara di pinggiran Pulau Bunguran.
Saat lagu Tanjung Katung dan Selayang Pandang dinyanyikan oleh apek Awang Pulau, aku tidak kuasa menolak ajakan seorang amoy untuk berjoget di atas pentas Gong Xi Fa Chai 2562. Sementara di bawah pentas anak-anak muda turut berjoget. Alunan merdu irama melayu dari apek Awang Pulau tadi membuat baju kurung merah yang kupakai terasa basah. Dua lagu tersebut juga membuat kopiah yang kupakai sedikit agak miring karena asyik ngibing amoy cantik yang berpakaian agak ketat,…ahay……
Dan senja itu di hari kedua perayaan Imlek, rombongan ibu-ibu berkerudung terlihat di beranda rumah amoy tersebut . Mereka bersalaman bagaikan sedang berlebaran Idul Fitri.
Amoy itu adalah Emi teman sekelasku saat di SMP dan saat ini bekerja di Tanjung Pinang. Setiap imlek ia selalu menyempatkan diri mudik,..untuk “ber-sincia”. Tahun ini koko si Emi juga mudik.
“Gong xi fa chai,…ya….? “ ujar seorang perempuan yang mengenakan jilbab berwarna hitam.
“ Gong xi,…gong xi,…mohon maaf lahir dan batin ya..? “ jawab koko emi sambil bersalaman.
Sungguh Pak Metta,…kisah di atas adalah kejadian nyata yang baru saja terjadi di sebuah kampung kecil di atas air yang bernama Sedanau. Saya yakin ibu-ibu tadi tidak mengerti arti kata pluralisme. Tapi mereka “ber-sincia” dan turut bergembira menyambut tahun kelinci.
Dan sebenarnya sangat sedikit sekali yang tidak menghargai pluralisme, dan terlalu banyak yang menikmati indahnya keragaman. So,…don’t worry pak Metta be happy, biarkanlah aparat penegak hukum yang menindaklanjuti keresahan pak Metta di atas,…sementara itu izinkan saya mengucapkan Gong Xi fa Chai dengan tulus,……..salam dari pulau.
5 Komentar:
pertamax ya :) ..
gong xi gong xi juga bong ..
setuju pokoke jangan pernah lelah mencintai negeri ini meski kadang pedih menyayat hati karena ulah para pencinta anarki ..
jika mendiamkan kejahatan adalah kejahatan, apa beda dia dan mereka.. Gong xi fa cai,wan se ru yi,salam dari desa
Kata alm guru ana: konsep amar ma'ruf adalah tugas dari orang tua, guru, ulama dsb, sedangkan nahi mungkar adalah tugas dari pemerintah dan aparat yg terkait (sudah ada aturannya), jika setiap orang gegabah dengan dalih nahi mungkar ya begini nih jadinya, bentrok, kerusuhan, tawuran dsb.
Gon xi fa cai juga ya, btw owe juga masih memiliki dalah tiong hoa lho...hehehehe :)
gong xi fa chai :). semoga kerukunan senantiasa terwujud di seluruh pelosok negri ini :).
pakabar om?
Post a Comment