bongjun { jurnablogis planet natuna }

Jabariyah

“ Siapapun yang terpilih,...nasib kami tetap begini. Jadi buat apa memilih ? ”

Ditengah suasana menyongsong Pilkada Natuna nanti suara-suara yang bernada pesimis seperti di atas masih banyak terdengar. Ini tentunya merupakan refleksi dari kekecewaan sebagian besar masyarakat terhadap berbagai persoalan yang terjadi.

Seakan ada getaran yang sama saat sesama masyarakat Natuna membicarakan perihal Natuna itu sendiri. Sebuah getaran yang menyesakkan dada. Bukan sebuah getaran yang membuat bangga tentunya. Budaya korupsi dan ketidakjelasan fokus pembangunan yang menyebabkan kata sejahtera seakan menjauh dari masyarakat kecil.

“Unyai,....!”

Kata tersebut sangat sering terdengar sebagai jawaban dari pertanyaan bagaimana kondisi Natuna ?. Singkat, padat dan pas untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi di Natuna saat ini.

Kepasrahan dan pesimisme di atas tentunya dengan mudah berkembang biak menjadi suatu faham yang menyebabkan kemunduran, yaitu faham Jabariyah. Sebuah faham yang tidak mau berusaha keras untuk merubah nasib karena dianggap sudah merupakan takdir dari Tuhan.

Padahal bukankah Tuhan dengan tegas dan jelas memberikan petunjuk bahwa tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut berusaha untuk merubahnya. ?

Dalam konteks persoalan Natuna di atas memilih pemimpin yang amanah adalah langkah awal untuk merubah “takdir". Tentunya dengan kesadaran bahwa “pemimpin amanah” itu sendiri bersifat relatif. Walaupun pilihan calon pemimpin yang ada bukanlah best of the best setidaknya saya akan memilih yang buruknya lebih sedikit dari pilihan buruk yang tersedia.

Karena saya bukan berfaham Jabariyah maka dengan Bismillah,... Insya Allah saya akan memilih pada Pilkada Natuna 10 Februari 2011 mendatang, sebagai sebuah partisipasi dan upaya untuk membenah Natuna.

Mari niatkan perubahan di Natuna !

Wassalam

Dummy placeholder (20px)

0 Komentar:

Post a Comment

Serial Padepokan Rumah Kayu

Komentar