bongjun { jurnablogis planet natuna }

Mari Siulkan Wind Of Change

11 dari 10 orang Planet Natuna akan mengangguk jika ditanya apakah anda sepakat bahwa korupsi masih terus terjadi di Planet Natuna ?

Pernyataan di atas hanya sekedar menggambarkan betapa kronisnya masalah korupsi di Planet Aneh tersebut. Sayangnya di Planet tersebut belum muncul Pendekar Hukum yang mempunyai komitmen dan integritas yang tinggi serta keberanian untuk memberantas korupsi. Sementara pengawasan dari masyarakat masih terbilang lemah. Hal ini disebabkan karena kaum terdidik (generasi mudanya) sebagian besar terserap sebagai PNS, CPNS serta Tenaga Honorer yang terpaksa harus berada dalam lingkaran korupsi itu sendiri. Hal tersebut sekaligus juga menjelaskan ketidakberhasilan pemerintah daerah Planet Natuna dalam menyediakan lapangan pekerjaan alternatif. Sementara dikalangan mahasiswanya ( generasi muda harapan negeri ) nampaknya masih belum bergerak.

Saya sepenuhnya sepakat dengan pandangan Ibu Ngesti Yuni, salah seorang anggota DPRD Natuna berikut :

Hal yang tidak kalah penting adalah pemikiran masyarakat terhadap "money politic". Sekarang masyarakat juga sudah terbius dengan sistem tersebut sehingga setiap kegiatan pilkada maupun pileg memang merupakan hal yang dinanti-nanti oleh masyarakat dengan harapan dapat “duit"……..selengkapnya

Pemikiran diatas dari satu-satunya politisi perempuan di Planet Natuna yang berhasil duduk dikursi dewan itu artinya bisa juga dibaca sebagai pengakuan bahwa kontribusi terbesar dari terciptanya budaya politik uang yang berujung kepada maraknya budaya korupsi tadi justru sebenarnya sumbernya adalah para calon pemimpin itu sendiri yang dengan sadar melakukan “siasat kotor” tersebut (Political Buying). Namun semoga saja Ibu Ngesti Yuni tidak buru-buru menarik kesimpulan bahwa itu adalah kehendak mayoritas masyarakat di Planet Natuna. Karena sebenarnya bukankah masyarakat kecil itu adalah korban dari tipu daya tersebut ? bukankah hal tersebut memang disengaja ? (by design ?)

Lalu bisakah korupsi di planet Natuna ditekan atau maksimal dihilangkan ? Jawabannya seharusnya BISA,…YES WE CAN !. Tentunya dengan kondisi sebagai berikut :

  • Jika elit politik di Planet Natuna mampu melepaskan sekat-sekat kepentingan sempit partai dan berusaha seobjektif mungkin mengarahkan para konstituennya untuk memilih kandidat yang relatif lebih bersih dan bebas dari “lingkaran kekuasaan” yang selama ini menciptakan budaya tersebut.

  • Jika para ulama, cerdik pandai dan mahasiswa juga secara sukarela memberikan pendidikan politik dilingkungan masing-masing tentang pentingnya memilih figur yang berintegritas dan mempunyai reputasi dan keberanian untuk membenah Planet Natuna ketimbang mendukung calon pemimpin yang selalu tampil dengan segala pencitraan.

  • Jika kita semua masyarakat Planet Natuna dengan jernih dan terang hati mengedepankan “ISI” daripada “KULIT” dari setiap calon pemimpin yang akan bertarung nanti.

Memutuskan mata rantai korupsi yang tengah terjadi saat ini di Planet Natuna adalah sebuah keharusan. Akankah Bu Yuni Ngesti bersama dengan ANGIN PERUBAHAN ? ataukah tetap berpijak pada suburnya tanah “status Quo ? “ …… Saya tidak tahu…..yang jelas Tuhan Tidak akan merubah nasib sesuatu kaum sebelum kaum tersebut berusaha untuk merubahnya.

Wallahualam bissawab….

Salam Hormat Buat Bu Ngesti Yuni

dari bongjun-sedanau

Dummy placeholder (20px)

2 Komentar:

Fernando Muhammad said...

Selamat dini hari Bang, lagi ronda nih ?, kalau political buying ana rasa tidak hanya di Natuna, tapi hampir diseluruh penjuru tanah air dengan dalih shodaqoh, hadiah dsb...ana rasa ini adalah sebagian dampak dari gelombang krisis moneter bertahun-tahun yg lalu, hingga menimbulkan degradasi moral "demi mendapatkan rupiah dengan segala cara"...sangat memprihatinkan wes 'embuh lah, Semoga Gusti Allah selalu memberi petunjuk pada kita semua...Amiin
*sambil ganti popok modeOn*...xixixixi

Din Saban said...

Maling teriak Maling....

Hore Org kampong kena tipu lagi....

Post a Comment

Serial Padepokan Rumah Kayu

Komentar